Contact Information:
  (0351) 462869
  m2kmadiun@gmail.com
Pentingnya Pendidikan Karakter Dalam Berliterasi

Begitu banyak tujuan yang bisa diambil dari kebiasaan membaca dan menulis tersebut. Akan tetapi maksud dan tujuan dari Literasi tersebut tidak akan sampai dalam diri seseorang apabila tidak dimulai dari sejak dini. Keluarga sebagai salah satu pintu pertama untuk mengenal  dunia pendidikan dimana Kedua orang tua sangan berperang penting untuk bisa menjadikan anaknya terbiasa dalam membaca ataupun menulis.
      Seiring perkembangan usia anak maka orantuapun mempunyai kewajiban untuk menggiring anaknya untuk menimbah ilmu pengetahuan baik dalam bidang non formal maupun formal sebagai bekal hidup dimasa yang akan datang.
      Pada dunia pendidikan dewasa ini peserta didik diberikan pembiasaan untuk menumbuh-kembangkan karakter dan budi pekerti yang baik. Pemerintah melalui kemdikbud meluncurkan sebuah gerakan pembiasaan yang berupaya untuk menumbuhkembangkan Budi pekerti yang disebut Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan ini bertujuan agar siswa memiliki budaya membaca dan menulis sehingga tercipta pembalajaran sepanjang hayat. 
     Literasi dalam konteks Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktifitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis dan atau berbicara.
     Harapan dan keinginan dari Gerakan Literasi sekolah yang sasarannya adalah peserta didik tidak akan terwujud jika sejak dini tidak dibiasakan untuk rajin membaca dan menulis. Hal ini sangat berkaitan dengan karakter dalam diri anak, sehingga sangat sulit rasanya mengharapkan Gerakan Literasi kepada peserta didik jika karakter yang dimiliki adalah malas membaca dan menulis.
      Jika kita kembali mengingat sejarah orang terdahulu dalam perjuangan bangsa ini, begitu banyak orang-orang yang Litrerat, yang dengan karyanya mampu menggerakkan semangat bagi rakyat Indonesia kala itu, sebut saja R.A. Kartini dalam karyanya “ Habis Gelap Terbitlah terang, Kihajar Dewantara dengan Tut Wuri handayani, Buya Hamka dengan karya – karya sastranya Dibawah Lindungan Ka’ba, Tenggelamnya Kapal van der wick, dan masih banyak lagi yang lainnya.
      Maka pekerjaan itu sebagai budaya yang Literasi harusnya menjadi warisan bagi generasi pelajar saat ini. Dan Pemerintah Indonesia mulai memperhatikan  tentang LITERASI DAN PENDIDIKAN KARAKTER dalam pendidikan.
      Pendidikan karakter akhir-akhir ini semakin banyak diperbincangkan di tengah tengah masyarakat Indonesia. Sikap dan perilaku masyarakat dan bangsa Indonesia sekarang cenderung mengabaikan nilai-nilai luhur yang sudah lama dijunjung tinggi dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Nilai-nilai karakter mulia, seperti kejujuran, kesantunan, kebersamaan, dan religius, sedikit demi sedikit mulai terganti oleh budaya asing sehingga nilai-nilai karakter tersebut tidak lagi dianggap penting.
     Sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki peradaban yang mulia, dan peduli dengan pendidikan bangsa, sudah seharusnya kita berupaya untuk menumbuhkan nilai-nilai itu kembali. Salah satu upaya ke arah itu adalah melakukan pembinaan karakter di semua aspek kehidupan masyarakat, terutama melalui bidang pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam pembentukan karakter.
Pentingnya Pendidikan Karakter Dalam Berliterasi
      Penguatan pendidikan moral atau pendidikan karakter di masa sekarang sangat perlu untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda bangsa ini. meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan seperti pencurian, perampokan, penggunanaan narkoba dan pornografi, serta korupsi sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas.
    Kegelisahan dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Mulai dari moral generasi penerus bangsa yang rusak, autput dari lembaga-lembaga pendidikan yang semakin parah, hingga pemerintah yang korup dan tidak peduli terhadap rakyat.
     Menghadapi kondisi ini seluruh komponen masyarakat memiliki tanggung jawab besar. Dan dari sekian banyak opsi yang dinilai mampu untuk memperbaiki keadaan ini, pendidikan adalah posisi yang paling strategis untuk melakukan perubahan dalam pembinaan karakter bangsa.
     Pendidikan merupakan agent of change yang harus mampu melakukan perbaikan karakter bangsa kita. Karena itu, pendidikan perlu direkonstruksi ulang agar dapat menghasilkan generasi yang lebih berkualitas dan siap menghadapi masa depan yang penuh dengan problema. Dengan kata lain, pendidikan harus mampu mengemban misi pembentukan karakter sehingga para peserta didik dan para lulusannya dapat berpartisipasi dalam mengisi pembangunan di masa-masa mendatang tanpa meninggalkan nilai-nilai karakter mulia. Dengan pendidikan yang baik, diharapkan akan tercipta generasi yang mampu membawa bangsa ini menuju ke arah yang lebih baik.
      Pendidikan Karakter menurut UU SISDIKNAS adalah usaha sadar dan terencara untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
      Pengertian pendidikan karakter salah satunya menitikberatkan kepada sikap maupun keterampilan , terampil dalam membaca, terampil memahami bacaan, terampil mengapresiasikan  bacaannya, dan terampil dalam menulis, menyadur, meringkas, mengkaji dan lain sebagainya. Dengan pendidikan dasar inilah seseorang diharapkan akan menjadi pribadi yang lebih baik dalam menjalankan hidup, penuh aspiratif, kreatif dan imajinatif. Pendidikan karakter merupakan salah satu alat yang paling penting dan harus dimiliki oleh setiap manusia.
    Pendidikan karakter seseorang juga merupakan salah satu alat terbesar yang akan menjamin kualitas hidup seseorang dan keberhasilan pergaulan di dalam masyarakat. Di samping pendidikan formal yang kita dapatkan, kemampuan memperbaiki diri dan pengalaman juga merupakan hal yang mendukung upaya seseorang dalam bermasyarakat. Tanpa itu pengembangan individu cenderung tidak akan menjadi lebih baik.
     Pendidikan karakter berfungsi untuk :Mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik. Sadar akan karakter yang dimiliki oleh setiap manusia maka ketika Karakter Literasi telah ada dalam diri seseorang dan tumbuh berkembang akan menjadi pembiasaan yang sangat positif. Seseorang akan mampu mengembangkan karakter tersebut dan mampu mencipta banyak karya – karya dalam bentuk tulisan.
Lebih jauh dari itu seorang Literat mampu memberikan contoh tauladan yang baik bagi seseorang , baik dari hasil karya yang diciptakan maupun dalam kehidupan sehari-harinya. Karakter-karakter yang tumbuh dalam diri seseorang yang Literat adalah karya-karya yang diciptakan lewat inspirasinya merupakan faktual dan  original bukan plagiat, sementara dalam jiwa seorang literat tertanam karakter jujur,disiplin,terbuka,amanah dan legowo (bahasa Jawa-pen).
     Ketika setiap peserta didik mamiliki sifat karakter tersebut dan tumbuh berkembang dalam dirinya maka tujuan dari pendidikan karakter dalam dunia pendidikan akan terlaksana. Sedanghkan pendidikan itu sendiri menurut UU SISDIKNAS adalah usaha sadar dan terencara untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Strategi Literasi dalam Pendidikan Karakter
     Proses perkembangan karakter pada seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor khas yang ada pada diri yang juga disebut faktor bawaan (nature) dan lingkungan (nurture) dimana seseorang tumbuh dan berkembang. Faktor bawaan boleh dikatakan berada di luar jangkauan masyarakat dan individu untuk mempengaruhinya. Sedangkan faktor lingkungan merupakan faktor yang berada pada jangkauan masyarakat dan individu. Jadi usaha pengembangan atau pendidikan karakter seseorang dapat dilakukan oleh masyarakat atau individu sebagai bagian dari lingkungan melalui rekayasa faktor lingkungan.
Pembentukan dan rekayasa lingkungan yang mencakup diantaranya lingkungan fisik dan budaya sekolah, manajemen sekolah, kurikulum, pendidik, dan metode mengajar. Pembentukan karakter melalui rekayasa faktor lingkungan dapat dilakukan melalui strategi
Keteladanan
Intervensi
Pembiasaan yang dilakukan secara konsisten
Penguatan
Dengan kata lain perkembangan dan pembentukan karakter memerlukan pengembangan keteladanan yang ditularkan, intervensi melalui proses pembelajaran, pelatihan, pembiasaan terus-menerus dalam jangka panjang yang dilakukan secara konsisten dan penguatan serta harus disertai dengan nilai-nilai luhur.
 

Selamat Datang di Website MAN 2 Kota Madiun
 KONTAK KAMI
MAN 2 KOTA MADIUN
Jl. Sumber Karya 5 Kota Madiun
(0351) 462869
(0351) 462869
m2kmadiun@gmail.com